Latest Post
TV Online
Written By Unknown on Sabtu, 08 Desember 2012 | 04.57
Tuhan dan Energi
Written By Unknown on Minggu, 02 Desember 2012 | 21.07
Kita ketahui bersama bahwa hukum kekalan energi adalah energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnakan, bukankah ini sama dengan konsep ketuhanan bahwa tuhan tidak bisa diciptkan dan tidak bisa dimusnakan. energi dan tuhan dan kekal apakah tuhan adalah energi, jika seperti itu saya ingin membawa anda kesebuah pembuktian mengenai salah satu hukum dari energi, Ek = 1/2 Mv . disini masa menjelaskan mengenai berat sebuah benda, misalnya coba kalian ambil buku, buku adalah sebuah benda yang bermassa saat kita memberikan gaya buku itu akan berpinda, berarti ini sesuai dengan rumus energi yang di atas. tapi coba anda letakan buku tersebut dan anda meminta tuhan untuk memindahkannya.
Penerapan Kurikulum 2013
Written By Unknown on Sabtu, 01 Desember 2012 | 04.58
Paling Tidak Bisa Diterapkan Masif 3 Tahun Lagi
Dalam
uji publik pengembangan kurikulum 2013 yang tengah berjalan, berbagai
alternatif ditawarkan terkait teknis pelaksanaan yang mungkin diterapkan pada
Juni 2013 mendatang. Salah satunya adalah penerapan yang dilakukan bertahap
pada beberapa tingkatan kelas.
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Sunaryo, mengatakan bahwa pemberlakuan kurikulum 2013 ini memang sebaiknya dilakukan secara bertahap. Kemudian ada sekolah-sekolah tertentu yang menjadi sasaran utama untuk tahap awalnya.
"Harusnya memang piloting dan bertahap. Jangan sekaligus. Kemudian terus dikawal secara baik agar dapat diketahui kendalanya ada dimana," kata Sunaryo di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Tidak hanya itu, dokumen terkait dengan konsep dan implementasi kurikulum baru ini juga harus sampai langsung ke tangan sekolah dan guru yang bersangkutan sehingga implementasinya dapat sesuai dengan yang diharapkan dan berjalan lancar.
"Dokumen itu penting sekali harus sampai. Selanjutnya, prosesnya baru bisa berjalan baik. Baru kemudian evaluasinya harus komprehensif," ujar Sunaryo.
Ia menambahkan dari empat alternatif teknis pelaksanaan yang ditawarkan, dirinya menyatakan bahwa yang sesuai adalah penerapan pada kelas I, IV, VII dan X di beberapa sekolah saja. Pemilihan kelas ini juga dinilai wajar agar tidak mengganggu kelas-kelas yang sedang persiapan menuju kelulusan.
"Tepat kalau dilakukan bertahap seperti itu. Untuk masifnya, paling tidak baru tiga tahun ke depan dijalankan," tandasnya.
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Sunaryo, mengatakan bahwa pemberlakuan kurikulum 2013 ini memang sebaiknya dilakukan secara bertahap. Kemudian ada sekolah-sekolah tertentu yang menjadi sasaran utama untuk tahap awalnya.
"Harusnya memang piloting dan bertahap. Jangan sekaligus. Kemudian terus dikawal secara baik agar dapat diketahui kendalanya ada dimana," kata Sunaryo di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Jumat (30/11/2012).
Tidak hanya itu, dokumen terkait dengan konsep dan implementasi kurikulum baru ini juga harus sampai langsung ke tangan sekolah dan guru yang bersangkutan sehingga implementasinya dapat sesuai dengan yang diharapkan dan berjalan lancar.
"Dokumen itu penting sekali harus sampai. Selanjutnya, prosesnya baru bisa berjalan baik. Baru kemudian evaluasinya harus komprehensif," ujar Sunaryo.
Ia menambahkan dari empat alternatif teknis pelaksanaan yang ditawarkan, dirinya menyatakan bahwa yang sesuai adalah penerapan pada kelas I, IV, VII dan X di beberapa sekolah saja. Pemilihan kelas ini juga dinilai wajar agar tidak mengganggu kelas-kelas yang sedang persiapan menuju kelulusan.
"Tepat kalau dilakukan bertahap seperti itu. Untuk masifnya, paling tidak baru tiga tahun ke depan dijalankan," tandasnya.
Sumber
: edukasi.kompas.com
Siswa Diajak Mencintai Matematika dan Sains
Sebanyak 30.000 siswa dari sekolah
negeri dan swasta di Kota Ambon bakal mengikuti cara pembelajaran matematika
yang gampang, asyik, dan menyenangkan alias GASING.
Pembelajaran sains dan matematika selama ini ditakuti siswa. Metode pembelajaran sains dan matematika GASING akan memperkenalkan cara belajar yang dinikmati siswa.-- Lidya
Kegiatan ini juga untuk memecahkan
Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk pembelajaran Matematika GASING dengan
peserta terbanyak.
"Pembelajaran sains dan
matematika selama ini ditakuti siswa. Metode pembelajaran sains dan matematika
GASING akan memperkenalkan cara belajar yang dinikmati siswa," kata Lidya,
Corporate Communication Surya Institute, Jumat (28/9/2012).
Pembelajaran Matematika GASING bagi
siswa Ambon dilaksanakan Surya Institute, PT suRE, dan Pemerintah Kota Ambon.
Metode pembelajaran sains dan matematika GASING dikembangkan fisikawan Prof
Yohanes Surya.
Kegiatan berlangsung di Stadion
Mandala Remaja Kota Ambon. Pemecahan rekor MURI ini dilaksanakan pada 1 Oktober
mulai pukul 09.00 - 12.00.
"Metode pembelaran sains dan
matematika GASING kami sebarkan supaya siswa senang belajar kedua ilmu itu.
Jika senang, mereka tidak ragu jadi ilmuwan. Negeri ini butuh banyak ilmuwan
untuk memajukan dan menyejahterakan Indonesia,l ujar Lidya.
Sumber : edukasi.kompas.com
Cara Agar Matematika Tak Memusingkan Anak
Mengubah
stigma bahwa mata pelajaran Sains dan Matematika sebagai mata pelajaran yang
rumit, menakutkan dan membosankan, nampaknya sudah harus dilakukan para guru,
orangtua, bahkan siswa yang menjalaninya. Terutama para siswa/i SD yang masih
muda, jika masih ada matematika dan sains yang dianggap menyulitkan, maka
hindarkanlah.
Hal tersebut diungkapkan Presiden Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary School (ASMOPS) Ali Godjali, yang menurutnya kedua mata pelajaran tersebut dapat dibuat menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi anak-anak hanya bila disampaikan dengan metode Gasing.
"Metode pembelajaran GASING yaitu gampang, asik dan menyenangakan, merupakan metode belajar matematika atau sains dengan cara yang lebih sederhana, dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, jadi tidak akan membuat siswa pusing atau benci terhadap matematika atau sains," katanya kepada Kompas.com di sela-sela memantau ASMOPS 2012 di Hotel Grand Zuri, BSD City, Tangerang, Rabu (7/11/2012).
Dosen matematika Surya Institute, Tangerang ini menjelaskan, untuk menangani materi matematika bagi siswa SD, yang paling terpenting adalah penguasaan berhitung dulu. Pembelajarannya lebih banyak menggunakan peragaan.
"Untuk siswa kelas 1-3, kita dapat belajar matematika dengan bantuan alat peraga, kita dapat menggunakan tangan dan alat-alat bergerak untuk menghitung. Yang penting aktif bergerak dan berhitung,"ucap lulusan Mathematics, Barkeley University, America ini.
Ali mencotohkan beberapa metode pembelajaran matematika dapat juga dengan bantuan lain seperti musik dan komputer.
"Dengan nyanyian siswa bisa untuk menghafal perkalian misalnya, atau dengan menggunakan software program games di komputer. Dimana pada games tersebut, misalnya games tembak-tembakan, ada permainan berhitungnya, seperti 1+2 sama dengan berapa? Nah yang harus ditembak adalah angka 3 di permainan itu,"ulasnya lagi.
Adapun untuk pendidikan sains, trainer Gasing Surya Institute Yuni Widyatuti menjelaskan, konsep sains konsep yang benar akan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus turunan.
"Biarkan mereka (anak-anak) yang menemukan sendiri, sampai mereka berkata 'Aha' sendiri dengan ekplorasinya sendiri," tutur Yuni di tempat yang sama.
Yuni menuturkan, sebelum memulai pelajaran, ia menyarankan para guru untuk menyenangi dulu materi pelajaran yang akan disampaikan pada siswa.
"Kita harus meyakinkan, sama-sama senang dulu, kalau ada hands on atau experience, maka matangkan dulu. Jadi ketika melakukan percobaan di depan kelas, maka anak-anak tertarik dan yakin apalagi kalau pembukaan pelajarannya asyik," katanya.
Ia menambahkan, selama ini metode pembelajaran dari guru ke siswa belum benar-benar membuat anak-anak senang dengan sains, akhirnya mereka tidak memahami konsep pengetahuan alam.
"Mereka bukan anak bodoh, anak itu cuma tidak dapat kesempatan guru yang kompeten dengan metoda yang efektif," ujarnya.
Yuni mencontohkan, bila ingin membuat daya tarik dalam belajar sains, guru atau orangtua di rumah bisa melakukan seperti salah satu yang dicontohkannya.
"Contoh yang spontan, soal Gangnam Style. Saat memasuki ruang kelas, coba buat suasana di kelas berbau gangnam. Nyalakan musiknya lalu tarikan gayanya. Hait, maka anak-anak bakal ikut gerakan kita. Setelah itu, kita ingatkan bahwa kita sedang belajar rangka. Anak-anak tulang apa saja yang bergerak kalau kita joget Gangnam? Dari sana kita perkenalkan pelajaran rangka," tuturnya.
Ia menegaskan, bahwa sains itu ada di sekeliling kita, jadi pelajaran sains bisa disampaikan secara spontan kepada anak-anak.
Menjaga rasa penasaran anak
Menjaga ketertarikan anak soal matematika atau sains, orangtua di rumah tidak lantas cuek dan membiarkan anaknya belajar sendiroi di rumah, Justru orangtua juga harus memiliki perannya.
Direktur Eksekutif Surya Institute Srisetiowati Seiful mengatakan, tidak cukup siswa belajar apa yang sudah dipelajarinya di sekolah, dari buku dan percobaan, tetapi juga saat anak belajar di rumah oranhtua harus siap mengikutinya.
"Metode Gasing bisa melibatkan anak dan orangtua. Saat anak sedang dalam curiosity-nya, rasa penasarannya, dan banyak bertanya dengaan orangtua mereka, maka jangan menghentikan pertanyaan anak. Upayakan menjawan sebisa mungkin, kakau pun menghindar jangan sekali kali mengatakan shut up, atau sudah jangan banyak tanya, tapi alihkan dengan, oke ibu harus masak dulu atau yang lainnya," ujar Sri saat berbincang dengan kompas.com di sela acara ASMOPS.
"Menjaga ketertarian anak soal pelajaran, tidak hanya sains dan matematika saja, tapi belajar dalam kehidupan dan belajar karakter, maka saya sarankan kebiasaan membacakan buku anak sebelum tidur dilakukan lagi, apalagi buku yang dalam dua bahasa, maka kemampuan anak akan lebih terasah dan peka terhadap kehidupan sehari-harinya," tambahnya.
Hal tersebut diungkapkan Presiden Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary School (ASMOPS) Ali Godjali, yang menurutnya kedua mata pelajaran tersebut dapat dibuat menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi anak-anak hanya bila disampaikan dengan metode Gasing.
"Metode pembelajaran GASING yaitu gampang, asik dan menyenangakan, merupakan metode belajar matematika atau sains dengan cara yang lebih sederhana, dengan pendekatan logika dan hampir tanpa rumus, jadi tidak akan membuat siswa pusing atau benci terhadap matematika atau sains," katanya kepada Kompas.com di sela-sela memantau ASMOPS 2012 di Hotel Grand Zuri, BSD City, Tangerang, Rabu (7/11/2012).
Dosen matematika Surya Institute, Tangerang ini menjelaskan, untuk menangani materi matematika bagi siswa SD, yang paling terpenting adalah penguasaan berhitung dulu. Pembelajarannya lebih banyak menggunakan peragaan.
"Untuk siswa kelas 1-3, kita dapat belajar matematika dengan bantuan alat peraga, kita dapat menggunakan tangan dan alat-alat bergerak untuk menghitung. Yang penting aktif bergerak dan berhitung,"ucap lulusan Mathematics, Barkeley University, America ini.
Ali mencotohkan beberapa metode pembelajaran matematika dapat juga dengan bantuan lain seperti musik dan komputer.
"Dengan nyanyian siswa bisa untuk menghafal perkalian misalnya, atau dengan menggunakan software program games di komputer. Dimana pada games tersebut, misalnya games tembak-tembakan, ada permainan berhitungnya, seperti 1+2 sama dengan berapa? Nah yang harus ditembak adalah angka 3 di permainan itu,"ulasnya lagi.
Adapun untuk pendidikan sains, trainer Gasing Surya Institute Yuni Widyatuti menjelaskan, konsep sains konsep yang benar akan lebih menekankan pada logika dibandingkan dengan menggunakan rumus-rumus turunan.
"Biarkan mereka (anak-anak) yang menemukan sendiri, sampai mereka berkata 'Aha' sendiri dengan ekplorasinya sendiri," tutur Yuni di tempat yang sama.
Yuni menuturkan, sebelum memulai pelajaran, ia menyarankan para guru untuk menyenangi dulu materi pelajaran yang akan disampaikan pada siswa.
"Kita harus meyakinkan, sama-sama senang dulu, kalau ada hands on atau experience, maka matangkan dulu. Jadi ketika melakukan percobaan di depan kelas, maka anak-anak tertarik dan yakin apalagi kalau pembukaan pelajarannya asyik," katanya.
Ia menambahkan, selama ini metode pembelajaran dari guru ke siswa belum benar-benar membuat anak-anak senang dengan sains, akhirnya mereka tidak memahami konsep pengetahuan alam.
"Mereka bukan anak bodoh, anak itu cuma tidak dapat kesempatan guru yang kompeten dengan metoda yang efektif," ujarnya.
Yuni mencontohkan, bila ingin membuat daya tarik dalam belajar sains, guru atau orangtua di rumah bisa melakukan seperti salah satu yang dicontohkannya.
"Contoh yang spontan, soal Gangnam Style. Saat memasuki ruang kelas, coba buat suasana di kelas berbau gangnam. Nyalakan musiknya lalu tarikan gayanya. Hait, maka anak-anak bakal ikut gerakan kita. Setelah itu, kita ingatkan bahwa kita sedang belajar rangka. Anak-anak tulang apa saja yang bergerak kalau kita joget Gangnam? Dari sana kita perkenalkan pelajaran rangka," tuturnya.
Ia menegaskan, bahwa sains itu ada di sekeliling kita, jadi pelajaran sains bisa disampaikan secara spontan kepada anak-anak.
Menjaga rasa penasaran anak
Menjaga ketertarikan anak soal matematika atau sains, orangtua di rumah tidak lantas cuek dan membiarkan anaknya belajar sendiroi di rumah, Justru orangtua juga harus memiliki perannya.
Direktur Eksekutif Surya Institute Srisetiowati Seiful mengatakan, tidak cukup siswa belajar apa yang sudah dipelajarinya di sekolah, dari buku dan percobaan, tetapi juga saat anak belajar di rumah oranhtua harus siap mengikutinya.
"Metode Gasing bisa melibatkan anak dan orangtua. Saat anak sedang dalam curiosity-nya, rasa penasarannya, dan banyak bertanya dengaan orangtua mereka, maka jangan menghentikan pertanyaan anak. Upayakan menjawan sebisa mungkin, kakau pun menghindar jangan sekali kali mengatakan shut up, atau sudah jangan banyak tanya, tapi alihkan dengan, oke ibu harus masak dulu atau yang lainnya," ujar Sri saat berbincang dengan kompas.com di sela acara ASMOPS.
"Menjaga ketertarian anak soal pelajaran, tidak hanya sains dan matematika saja, tapi belajar dalam kehidupan dan belajar karakter, maka saya sarankan kebiasaan membacakan buku anak sebelum tidur dilakukan lagi, apalagi buku yang dalam dua bahasa, maka kemampuan anak akan lebih terasah dan peka terhadap kehidupan sehari-harinya," tambahnya.
Sumber
: edukasi.kompas.com
Meja 'Pintar' Tingkatkan Kemampuan Matematika Anak
Meja belajar dengan teknologi yang memungkinkan
proses interaktif bisa membantu kemampuan matematika murid sekolah dasar. Hal
itu diungkapkan oleh para peneliti di Universitas Durham, Inggris, berdasarkan
proyek selama tiga tahun yang melibatkan 400 siswa berusia delapan hingga 10
tahun.
Dilengkapi dengan layar sentuh yang memungkinkan interaksi antar beberapa pengguna, meja 'pintar' itu dirancang, diproduksi, dan diuji oleh Universitas Durham. Dengan meja tersebut maka para murid bisa bekerja sama tanpa ada individu yang mendominasi.
Salah seorang peneliti, Dr Emma Mercier, mengatakan meja pintar itu membantu para siswa untuk menemukan beragam jawaban atas pertanyaan aritmetika.
Guru sedikit berinteraksi
Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal pendidikan Learning and Instruction memperlihatkan meja pintar memungkinkan para murid berkolaborasi untuk menemukan jalan keluar. Ditambahkan bahwa siswa lebih terdorong untuk menggunakan ketrampilan matematika dalam memecahkan persoalan jika menggunakan meja pintar dibanding dengan menggunakan kertas.
"Kita bisa mencapai kepiawaian matematika melalui latihan, namun mendorong kemampuan siswa untuk menemukan berbagai jawaban atas persoalan matematika lebih sulit untuk diajarkan," tutur Dr Mercier.
Dengan menggunakan meja pintar yang dikembangkan Universitas Durham ini maka guru juga bisa mendapat masukan secara langsung dan memberikan bantuan setiap saat jika diperlukan.
"Belajar bersama berjalan dengan baik di kelas karena para siswa berinteraksi dan belajar dengan berbagai cara. Siswa menikmati pengerjaan matematika dengan cara ini dan selalu kecewa ketika mejanya dimatikan," tambag Dr Mercier.
Namun karena harga meja mahal maka masih diperlukan waktu yang panjang sebelum meja tersebut menjadi peralatan yang umum di sekolah-sekolah. Bagaimanapun, tim peneliti sudah berhasil menemukan beberapa cara untuk mengurangi biaya pembuatan meja pintar.
Dilengkapi dengan layar sentuh yang memungkinkan interaksi antar beberapa pengguna, meja 'pintar' itu dirancang, diproduksi, dan diuji oleh Universitas Durham. Dengan meja tersebut maka para murid bisa bekerja sama tanpa ada individu yang mendominasi.
Salah seorang peneliti, Dr Emma Mercier, mengatakan meja pintar itu membantu para siswa untuk menemukan beragam jawaban atas pertanyaan aritmetika.
Guru sedikit berinteraksi
Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal pendidikan Learning and Instruction memperlihatkan meja pintar memungkinkan para murid berkolaborasi untuk menemukan jalan keluar. Ditambahkan bahwa siswa lebih terdorong untuk menggunakan ketrampilan matematika dalam memecahkan persoalan jika menggunakan meja pintar dibanding dengan menggunakan kertas.
"Kita bisa mencapai kepiawaian matematika melalui latihan, namun mendorong kemampuan siswa untuk menemukan berbagai jawaban atas persoalan matematika lebih sulit untuk diajarkan," tutur Dr Mercier.
Dengan menggunakan meja pintar yang dikembangkan Universitas Durham ini maka guru juga bisa mendapat masukan secara langsung dan memberikan bantuan setiap saat jika diperlukan.
"Belajar bersama berjalan dengan baik di kelas karena para siswa berinteraksi dan belajar dengan berbagai cara. Siswa menikmati pengerjaan matematika dengan cara ini dan selalu kecewa ketika mejanya dimatikan," tambag Dr Mercier.
Namun karena harga meja mahal maka masih diperlukan waktu yang panjang sebelum meja tersebut menjadi peralatan yang umum di sekolah-sekolah. Bagaimanapun, tim peneliti sudah berhasil menemukan beberapa cara untuk mengurangi biaya pembuatan meja pintar.
Sumber : edukasi.kompas.com
Guru Tidak Cukup Hanya Mengajar
Pendidikan
sebagai suatu yang penting dalam pembentukan karakter bangsa. Namun tanpa
didukung dengan perangkat yang mumpuni, hal ini sulit terwujud. Salah satu
perangkat penting untuk mewujudkan tugas pendidikan dalam membangun karakter
bangsa ini ada di tangan guru.
Ketua
Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, mengatakan bahwa
peran guru saat ini hanya diprioritaskan untuk mengajar saja. Padahal guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam tiap jenjang
pendidikan.
"Tapi
sayangnya, sekarang yang dihargai hanya dalam angka kredit maupun kepentingan
kepegawaian hanya mengajar saja. Tatap muka minimal 24 jam dan maksimal 40 jam
per minggu," kata Sulistiyo di Jakarta, Jumat (23/11/2012).
Akibatnya,
tugas lain yang juga diemban oleh para guru ini kurang mendapat perhatian
bahkan terkadang tidak terlaksana secara optimal.
Pasalnya,
para guru ini sibuk memenuhi durasi tatap muka dengan peserta didiknya sehingga
terkadang lolos mengamati perkembangan anak didiknya karena peran mengevaluasi
tadi kurang berjalan.
Tidak
hanya itu, adanya Ujian Nasional (UN) juga makin menguatkan bahwa tugas utama
hanya mengajar saja. Berbagai pendalaman materi disediakan untuk siswa-siswa
pada tingkat akhir untuk memantapkan lagi mata pelajaran yang akan diujikan.
Namun
semuanya hanya sekadar pengajaran, tidak ada konsultasi atau bimbingan bagi
anak-anak didik yang mengalami kesulitan belajar.
"Ini
yang menyebabkan pendidikan susah untuk membangun karakter bangsa karena guru
sebagai kunci keberhasilan pendidikan belum didorong dan dihargai untuk
melakukan keseluruhan tugasnya dengan baik," ujar Sulistiyo. "Jadi
jika mutu pendidikan dianggap belum baik, ini persoalan kolektif akibat dari
sistem dan kebijakan yang tidak tepat," tandasnya.
Sumber : edukasi.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)